Materi PeKa – 21 Januari 2020

Materi PeKa
Selasa, 21 Januari 2020.
MENGENAL ROH KUDUS
(Yohanes 14:1-28; 2 Korintus 3:17)

¬¬ Seorang mahasiswa teologia semester lima yang tengah mempersiapkan khotbah untuk disampaikan di ibadah doa pagi di salah satu cabang GBI PPL tiba-tiba terusik oleh perasaan kurang enak bahwa khotbahnya itu bukan khotbah yang dikehendaki Roh. Dengan enggan dia menyingkirkan bahan khotbah itu lalu dengan berserah pada bimbingan Roh Kudus dia membaca Yohanes 14 sambil mencari tema yang dapat dibahas dari pasal tersebut. Saat ia sampai pada ayat tujuh, perkataan ini menarik perhatiannya, “Kamu kenal Dia,” maksudnya Sang Bapa. Ia meneruskan membaca dua ayat lagi, dan kembali suatu kalimat menjadi jelas baginya. “Engkau tidak mengenal Aku?” Yang dimaksud dengan perkataan itu ialah Sang Anak. Ketika dia tiba di ayat ketujuh belas, saat dia membaca “Tetapi kamu mengenal Dia,” berulang-ulang, di situlah Sang Roh Kudus menggerakan hatinya.
Apakah mahasiswa itu mengenal Roh Kudus? “Aku kenal Sang Bapa,” pikirnya, “dan aku telah banyak mengalami kasih dan pemeliharaan-Nya. Aku kenal Sang Anak, sebab Dialah Juruselamat yang kuundang tinggal dalam hatiku dan aku mempunyai hubungan erat dengan-Nya setiap hari. Tetapi apakah aku mengenal Roh Kudus begitu karib dan mesra, seperti aku mengenal Sang Bapa dan Sang Anak?”
Dari banyak tema tentang Roh Kudus dalam khotbah dan lagu-lagu rohani, kita bisa melihat ternyata pengetahuan kita tentang Dia tidak begitu hidup dan mendalam. Bahkan banyak gereja selama berbulan-bulan lamanya tidak menyampaikan khotbah yang sungguh-sungguh memuliakan Pribadi ketiga Tritunggal ini.
Tuhan memberi tuntunan kepada para pemimpin gereja kita untuk memberikan tema tahun 2020, “Hidup Dipimpin oleh Roh Kudus”. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Sebagai jemaat, apakah kita benar-benar mengenal Roh Kudus dengan begitu hidup dan mendalam?” Mengenal dengan begitu hidup dan mendalam pribadi yang akan memimpin kita adalah sangat penting, karena kita pasti tidak akan mau dipimpin oleh pribadi yang tidak kita kenal. Siapakah Roh Kudus yang akan mempimpin kita di tahun 2020 ini dan tahun-tahun berikutnya?
I. Dia adalah Penolong (Yohanes 14:16-17).
Kata “Penolong” adalah terjemahan dari kata Yunani “Parakletos”, yang artinya kekuatan. Jadi, Parakletos adalah pribadi yang memberi kekuatan pada saat situasi lemah. Penolong itu adalah “Roh Kebenaran” yang akan membawa murid-murid “kepada segala kebenaran” (Yoh. 16:13). Tugas Penolong itu adalah “mengingatkan” (Yoh 14:26) dan “menyaksikan” perihal Kristus (Yoh 15:26), dan juga menginsafkan manusia “akan perbuatan dosa, keadilan, dan hukuman” (Yoh 16:7-8). Dengan memakai kata “Parakletos” jelas bahwa yang Tuhan Yesus maksudkan ialah menolong dengan cara memberi kekuatan saat menghadapi kesulitan sehari-hari.
Kata Latin “Advocatus” mempunyai arti terdekat dengan kata “Parakletos”. Kedua kata ini berarti “memohon seseorang mendampingi sebagai penolong”, teristimewa kepada seorang penuntut atau saat berada di depan hakim.
Pembela yang terbaik pada masa itu mempunyai empat kewajiban: (1) Dia menjadi wakil bagi orang yang meminta pembelaannya; (2) dia mempertahankan perkara orang itu; (3) dia membela nama orang itu; (4) dia menjaga serta mengurus harta benda orang itu.
Parakletos adalah advocatus-Nya Tuhan Yesus yang mewakili Dia di dunia ini. Dia mempertahankan perkaranya Yesus, membela nama Yesus dan Dia menjaga serta mengurus kita yang adalah harta benda milik Yesus. Roh Kudus senantiasa beserta kita untuk menuntun, menguatkan dan menolong kita.
II. Dia adalah Pribadi (Yoh 14:17).
Saat kita menggunakan kata “pribadi” untuk manusia, maksudnya ialah suatu pribadi yang terpisah (lepas satu sama lain), berdiri sendiri, dan berbeda dari yang lainnya. Tetapi arti istilah “pribadi” yang digunakan dalam Tritunggal bukan seperti itu. Paham tentang tiga wujud yang terpisah-pisah itu tidak ada sama sekali. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi, tetapi bukanlah tiga wujud yang terpisah-pisah dan berbeda. Mereka dapat dibedakan satu sama lain, tetapi dalam hakikat-Nya Mereka tidak terpisah satu sama lain. Roh Kudus dapat dibedakan dari Allah Bapa dan Sang Anak, namun Ketiganya memiliki hidup yang sama, yang tidak terpisahkan.
Sikap beberapa gereja dewasa ini tidak mau tahu dan tidak peduli dengan Roh Kudus. Sementara yang lainnya tahu bahwa Roh Kudus ada, tetapi menganggapnya sebagai suatu pengaruh atau suatu kuasa belaka dan tidak menganggap-Nya sebagai Pribadi. Bagi mereka Roh itu “benda” dan bukan “pribadi”. Ada pula gereja yang meneliti seluk beluk Roh itu, tetapi mereka tidak mengenal seperti yang diartikan Yohanes 14:17, sebab perkataan itu bukan hanya mengandung pengetahuan intelektual, melainkan juga pengetahuan sebagai buah dari pengalaman secara pribadi.
Roh Kudus memiliki unsur-unsur pokok dari kepribadian yaitu: kecerdasan, perasaan hati, kehendak, dan kemampuan. Kita membaca tentang “maksud Roh itu” (Rm 8:27), “kasih yang bersumber dari Roh” (Rm 15:30), “kehendak Roh dan pekerjaan Roh” (1 Kor 12:11). Jadi, dengan tak terbatas Roh Kudus memiliki sifat-sifat yang ada dalam manusia.
Roh Kudus adalah Pribadi Ilahi yang bekerja dengan kesadaran, disertai kecerdasan, kasih yang tak terbatas, dan berkehendak bebas. Apabila kita sungguh-sungguh memahami peranan penting-Nya dalam hidup dan pengalaman kita sebagai orang percaya, tindakan mengabaikan atau meniadakan Roh Kudus adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan.

III. Dia adalah Allah (2 Korintus 3:17).
Sang Bapa adalah Allah, Sang Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Namun demikian, bukan berarti ada tiga Allah, tetapi satu Allah. Apabila kita memakai istilah ke-Allah-an yang berhubungan dengan Roh Kudus, artinya Dia memiliki sifat-sifat Allah; Dia bukan hanya keluar dari Bapa, tetapi Dia sendiri adalah Allah.
Ada orang yang mengakui bahwa Roh itu Pribadi, tetapi mereka menyangkal Dia Allah. Salah satunya adalah seorang pendeta besar di Indonesia yang mengajarkan bahwa: Allah itu Dwitunggal. Roh Kudus selalu menyatu dengan kehendak Bapa sehingga Roh Kudus adalah pribadi ketiga yang reaktif, tidak mutlak. Berbeda dengan Yesus yang ketika menjadi manusia bisa memiliki kehendak berbeda dengan Bapa, sehingga ada risiko terpisah selamanya dari Bapa. Lagipula Bapa, Anak dan Roh Kudus itu tidak setara. Namun pengajaran tersebut telah disanggah oleh sinode gereja kita dengan memberikan pernyataan: Allah itu Tritunggal: satu hakekat tapi memiliki tiga pribadi yang setara yaitu: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bisa dibedakan namun tidak bisa dipisahkan. Pengajaran pendeta tersebut bukan hanya berbeda dengan ajaran GBI tapi dengan konsep gereja secara umum yang dirumuskan dalam konsili Nicea tahun 325 M.
Pengajaran pendeta di atas mirip dengan pengajaran Arius, bidat dari Alexanderia, pada masa gereja mula-mula, yang mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah suatu Pribadi, tetapi dia menyangkal ke-Allah-an-Nya yang sebenarnya. Menurut dia, Roh adalah pribadi yang dijadikan, dan karena dijadikan maka Roh tidak mempunyai sifat ke-Allah-an.
Apabila kita membaca Matius 3:16-17, di sana dengan jelas ketiga Pribadi Tritunggal diperlihatkan dengan sangat jelas. Suara Allah Bapa menyatakan perkenanan-Nya akan Anak-Nya, Roh Kudus turun ke atas Anak-Nya dalam bentuk seekor burung merpati.

Beberapa bukti ke-Allah-an-Nya yang abadi:
 Roh Kudus dan Allah adalah satu. Kis 5:3-4, Ananias berdusta kepada Roh Kudus dan dengan demikian dia berdusta kepada Allah. Jelas bahwa Roh Kudus dan Allah adalah satu.
 Dia memakai hak-hak istimewa ke-Allah-an-Nya serupa dengan Bapa dan Anak (Mzm 135:6; Yoh 15:16; 1 Kor 12:11; 1 Kor 12:4-6).
 Sifat-sifat yang dikenakan kepada Roh itu membuktikan ke-Allah-an-Nya. “Roh yang kekal” (Ibr 9:14), “Roh yang memberi hidup” (Rm 8:2), “Roh kebenaran” (Yoh 14:17; 16:13), “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8) sejajar dengan “demi kasih Roh Kudus” (Rm 15:30), “Kudus”, “maha tahu” (1 Kor 2:10).
 Pekerjaan-Nya menyatakan bahwa Dia adalah Allah. “Menjadikan dan memelihara” (Mzm 33:6; 140:30), “melakukan mukjizat dengan kuasa-Nya” (Mat 12:28).
 Derajat-Nya yang sama dengan Bapa dan Anak merupakan bukti juga tentang ke-Allah-an-Nya. Dia disebutkan Bersama Bapa dan Anak dalam hubungan yang sempurna dan seimbang saat Kristus di baptis (Mat 3:16-17), pada hari turunnya Roh Kudus (Kis 2:33), dalam pemberkatan rasuli (2 Kor 13:13), dan dalam liturgi baptisan (Mat 28:19).
 Tidak diampuninya hujat terhadap Roh Kudus juga membuktikan ke-Allah-an-Nya (Mat 12:31-32).
Melalui pembahasan materi Peka kali ini, biarlah setiap kita dapat mengenal Roh Kudus dengan begitu hidup dan mendalam, tidak hanya mengenal secara intelektual, melainkan juga mengenal sebagai buah dari pengalaman secara pribadi. Roh Kudus adalah Penolong yang dijanjikan oleh Tuhan kita, Dia menutun, menguatkan dan menolong kita. Dia adalah Seorang Pribadi yang tidak boleh kita abaikan. Dia adalah Allah yang derajatnya sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak. Dengan mempercayakan hidup kita sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus, maka hidup kita akan bertumbuh semakin serupa dengan Kristus dan perkenanan Allah selalu ada dalam kita.

PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN:
 Menurut Anda siapakah Roh Kudus sebelum Anda mendapatkan materi ini? Setelah mendapatkan materi ini, pemahanan apa yang Anda dapatkan mengenai Roh Kudus?

POKOK DOA :
 Minta pertolongan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam memahami Dia lebih mendalam, menimbulkan kasih mesra dalam hati dan keakraban seperti kita akrab dengan Sang Bapa dan Sang Anak.
 Minta Roh Kudus untuk senantiasa memberi kekuatan dan pertolongan dalam menghadapi pergumulan yang sedang kita hadapi saat ini dan di waktu yang akan datang.