Materi PeKa – 15 Oktober 2019

Materi PeKa
Selasa, 15 Oktober 2019

MENGUCAP SYUKUR

1 Tes 5:18 ;
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Mengucap syukurlah dalam segala hal, dalam terjemahan lain dikatakan :
BIMK : dalam segala keadaan hendaklah kalian bersyukur
FAYH : apapun yang terjadi hendaklah saudara bersyukur,
Artinya, kita harus bisa mengucap syukur dalam segala keadaan, baik susah atau senang, baik rugi atau untung, baik sakit atau sehat, baik sedih atau gembira.
Kenapa? Karena itulah yang dikehendaki Allah dari kita yang sudah bersatu dengan Kristus Yesus.
Bahwa ternyata ada “BERKAT DI BALIK MENGUCAPAN SYUKUR”

Mengucap syukur merupakan kalimat yang sangat sederhana dan sudah tidak asing lagi didengar telinga dan diucapkan mulut kita. Karena setiap kali kita berdoa dan bersaksi selalu diawali dengan kata “saya mengucap syukur” untuk pertolongan Tuhan, untuk mujizat, untuk apa yang saya alami, kalau saya ada hari ini, dan lain sebagainya. Mengucap syukur merupakan salah satu aplikasi dari kita menajaga mulut kita: “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” Mazmur 141:3

Kapan kita harus mengucap syukur?
1.Pada saat diserobot, dirugikan, dihalang-halangi
Kondisi ini akan mengajar kita menjadi orang yang sabar (caranya; doakan, ampuni dan berkati).
Tiba-tiba antrian kita diserobot orang lain, tiba-tiba makanan atau barang kita dirampas orang lain, tiba-tiba anak kita dimarahi dan dipukul orang lain, tiba-tiba jalan kita dihalangi orang lain, tiba-tiba kita mau dirampok dan diancam penjahat, tiba-tiba mengalami kecelakaan, dan lain sebagainya.

2.Pada saat tiba-tiba dimarahi, disakiti, difitnah;
Kondisi akan mengajar kita menjadi orang yang bisa menguasai diri, membawa damai dan mengasihi (caranya; diam, berdoa, ampuni dan berkati).
Pada saat kita difitnah, emosi atau ucapan syukur? Kuatir atau ucapan syukur? Panik atau ucapan syukur? Respon awal kita pastilah: emosi, kuatir, panik bahkan marah-marah! Nah, di saat seperti inilah seringkali kita tidak bisa menjaga kata-kata yang keluar dari mulut kita bukan? Karena emosi, kita lupa mengucap syukur, karena kuatir kita lupa mengucap syukur, karena panik kita lupa mengucap syukur, terlebih jika kita marah-marah! Kata-kata yang pedas, tajam, dan memancing emosi orang lain dan melukai hati orang lain seringkali keluar dari mulut orang yang sedang emosi dan marah. Sehingga pertengkaran dan permusuhan tidak bisa dihindari.
Firman Tuhan berkata dalam 1 Tes 5:18 ; “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

3. Pada saat tahu kita ditipu dan dibohongi;
Moment ini akan mengajar kita menjadi orang yang bisa bermurah hati dan baik hati (caranya; diam, berdoa, ampuni dan berkati).
Namun sadarkah kita, seringkali kita lupa atau bahkan tidak mengucap syukur terlebih dulu di saat kita mengalami sebuah peristiwa atau kejadian yang menimpa kita? Pikiran kita, mata kita, hati kita seringkali lebih terprovokasi atau lebih terpengaruh oleh emosi?
Mari kita renungkan dan kita uji sejenak, kalimat atau kata-kata apakah yang lebih dulu keluar dari mulut kita di saat kita mengalami:

Selain sebagai manifestasi dalam menjaga mulut, MENGUCAP SYUKUR juga bisa menghasilkan buah-buah roh dalam kehidupan kita. Galatia 5 :22-23; “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Dengan mengucap syukur, kita bisa menjaga mulut dan hati kita dari berbuat dosa serta berbuah-buah.
PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN :
1. Hal apa saja yang membuat kita sulit atau bahkan lupa untuk mengucap syukur?
2. Kapan dan dimana kita bisa belajar untuk mengucap syukur?

POKOK DOA :
Saling mendoakan supaya setiap kita dimampukan untuk dapat mengucap syukur dalam segala keadaan.